Hakikat Kematian Dan Kehidupan

Oleh : Dr. Azhami Z

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati,” Allah berfirman “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu,lalu letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:260).

Pada ayat ini Allah SWT masih menerangkan tentang haqiqotul maut wal hayah (hakekat kematian dan kehidupan). Pada ayat ini Nabi Ibrohim a.s. meminta kepada Allah agar diperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang yang telah mati. Permintaan Nabi Ibrohim ini bukan karena keimanan beliau lemah, akan tetapi permintaan itu muncul karena kerinduan Nabi Ibrohim kepada Dzat yang dicintai yaitu Allah SWT. Karena besarnya rasa rindu tersebut, sampai-sampai Nabi Ibrohim ingin agar Allah memperlihatkan kepada dirinya bagaimana Allah SWT menghidupkan orang yang sudah mati.

Pada awal ayat ini Allah SWT mengatakan (Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati). Kata al-mauta yang terdapat pada ayat ini merupakan bentuk jama’ dari lafadz mayyit. Lafadz ini mengikuti wazan fa’la.

Menanggapi permintaan Nabi Ibrohim ini Allah SWT bertanya (Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?”). Kemudian Nabi Ibrohim menjawab (Ibrahim menjawab: “Bukan demikian Ya Allah, aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku“). Jadi jawaban Nabi Ibrohim adalah qoola bala yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrohim mengimani kekuasaan Allah SWT yang mampu menghidupkan yang sudah mati. Kalau jawaban Nabi Ibrohim adalah qoola na’am, maka berarti Nabi Ibrohim tidak beriman atas kekuasaan Allah tersebut. Lafadz balaa ini dipergunakan untuk menjawab pertanyaan yang menggunakan nafi, seperti awalam, yang di dalamnya tedapat lafadz lam.

Pada penggalan ini Nabi Ibrohim menjawab bahwa keingintahuan beliau itu semata-mata agar hati beliau tetap tenteram. Jadi sebelum bertanya pun, hati Nabi Ibrohim sudah tenteram, namun untuk menjaga agar hati beliau tetap tenteram, maka Nabi Ibrohim mengungkapkan pertanyaan itu. Jadi qudrotullah bi syai-in maqshud (kekuatan Allah dalam hal yang konkret) bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan keimanan seorang muslim.

Permintaan Nabi Ibrohim ini dikabulkan oleh Allah SWT dengan mengatakan  (Allah berfirman “Kalau demikian ambillah empat ekor burung). Kata thoir merupakan bentuk mufrod (tunggal). Dari sini ada hal yang menarik untuk kita perhatikan, karena jumlah burung yang diperintah untuk diambil Nabi Ibrohim berjumlah empat ekor. Jadi secara bahasa, seharusnya dipergunakan bentuk jama’, sehingga berbunyi thuyur. Kenapa pada ayat ini dipergunakan lafadz thoir yang merupakan bentuk mufrod ? Jawabannya adalah bahwa lafadz thoir merupakan ismu jam’in (isim jama’). Jadi kata-nya sendiri memang merupakan bentuk mufrod, akan tetapi mengandung ma’na jama’. Kata lain yang sama dengan kata thoir misalnya adalah lafadz shohbihi (shohabat). Shohbihi merupakan bentuk mufrod, dan bentuk jama’nya adalah ash-hab (shohabat- shohabat). Namun dalam pemakaiannya, untuk menggambarkan ‘shohabat- shohabat’ dipergunakan kata shohbihi bukan ash-habihi, karena shohbihi merupakan isim jama’ (bentuk tunggal tetapi ma’nanya jama’). Oleh karena itulah pada ayat ini Allah mengatakan minath-thoir, bukan minath-thuyur. Dan perlu kita ketahui bahwa lafadz thoir itu dari masdar, dan masdar tidak dijama’kan.

Selanjutnya Allah mengatakan (lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman)”Lalu letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan segera”). Apa rahasia dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrohim agar mencincang empat burung ? Kenapa tidak tiga saja ? Atau kenapa tidak lima saja ?

Perlu kita ingat bahwa ayat ini menjelaskan kepada kita tentang haqiqotul hayah wa sirruha (hakekat kehidupan dan rahasianya). Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrohim untuk mencincang empat ekor burung dan meletakkannya di empat gunung, itu artinya burung-burung itu ditempatkan di empat arah, yaitu timur barat, utara dan selatan. Kalau Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrohim untuk mencincang satu atau dua ekor burung saja, dan kemudian diletakkan di satu atau dua tempat saja, orang yang melihat kejadian hidupnya burung yang telah dicincang itu mungkin akan mempunyai anggapan bahwa burung yang telah dicincang itu bisa hidup lagi kalau berada di tempat tertentu, misalnya di utara saja. Atau mungkin akan ada anggapan bahwa burung yang bisa hidup lagi itu hanya dari jenis tertentu saja. Akan tetapi ketika diperintahkan untuk mencincang empat burung, maka kemungkinan kesalahan persepsi itu bisa diantisipasi. Kalau dikatakan empat burung, itu artinya anwa’-nya mukhtalifah (burung-burung itu jenisnya berbeda-beda).

Jadi perintah Allah SWT ini untuk memberikan pemahaman yang benar bahwa bukan karena jenis burung tertentu saja yang bisa dihidupkan Allah setelah matinya, akan tetapi dari jenis apapun bisa dihidupkan lagi oleh Allah SWT. Dan di arah manapun burung-burung itu ditempatkan, Allah tetap mampu menghidupkan burung yang sudah mati. Hubungannya dengan manusia adalah bahwa dengan kekuasaaNya, Allah mampu menghidupkan manusia yang sudah mati, karena ayat ini penekanannya adalah al-iman bil ba’tsi (keimanan atas hari kebangkitan). Orang kafir tidak percaya bahwa setelah mereka mati, Allah SWT mampu membangkitkannya lagi. Kekafiran semacam ini tidak bisa diluruskan dengan menggunakan dalil aqli, akan tetapi harus diberikan bukti yang konkret untuk menjelaskannya, seperti dihidupkannya kembali orang yang sudah mati seperti yang telah dijelaskan pada ayat sebelum ini, dan juga dihidupkannya kembali burung yang sudah mati seperti yang dijelaskan pada ayat ini.

Allah menutup ayat ini dengan mengatakan (Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). Dari penutup ayat ini memahami bahwa menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati merupakan salah satu bentuk keperkasaan Allah (Al-’Aziz). Dan Allah mempunyai sifat Al-Hakiim (Maha Bijaksana), yang telah mengajari kita untuk mengetahui hikmah-hikmah dalam menanamkan keimanan ke dalam hati manusia, dengan metodologi yang bermacam-macam.

Marilah kita tadaburi i’jazul Qur’an (kemu’jizatan Al-Qur’an) yang berkaitan dengan al-munasabah (korelasi) antara ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya. Ayat-ayat yang kita telah bahas mulai dari Ayat Kursi sampai dengan ayat ini, tidak diturunkan sekaligus akan tetapi diturunkan secara bertahap. Namun subhanallah, antara ayat yang satu dengan yang lainnya tetap terlihat kaitan yang sangat dekat. Al-Munasabatu adalah nau’un min i’jazil Qur’an (korelasi antara satu ayat dengan ayat lain dalam satu surat, atau antara surat yang satu dengan surat berikutnya yaitu antara ayat terakhir dari surat sebelumnya dengan awal ayat dari surat berikutnya, merupakan bagian dari kemu’jiztan Al-Qur’an). Kalau kita perhatikan, mulai dari Ayat Kursi sampai dengan ayat ini, mihwar (ruang lingkupnya) adalah membicarakan tentang haqiqotul hayah wa sirruha (hakekat kehidupan dan rahasia yang ada di dalamnya), dengan berbagai macam pendekatan dan kisah-kisah yang berkaitan dengannya.

Pada ayat 255 (Ayat Kursi), Allah SWT mengatakan  (Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya). Dari ayat ini kita mendapatkan penjelasan tentang sifat-sifat Allah SWT dengan sangat jelas. Dan setiap sifat dari sifat-sifat Allah itu diterangkan dengan tujuan untuk membentuk at-tasawwur al-Islami ash-shohih (persepsi Islam yang benar), dan sekaligus merupakan qoidah dari prinsip Islam yang benar, yaitu bahwa tidak ada Ilah yang patut kita sembah selain Allah SWT.

Kemudian diterangkan juga bahwa salah satu sifat Allah adalah bahwa Dia Hidup (Al-hay). Kemudian diterangkan juga bahwa Allah mempunyai sifat Al-Qoyyum, tidak tidur dan lain sebagainya. Dengan penjelasan yang terdapat pada ayat ini menjadi jelaslah bagi kita siapa Allah SWT itu. Dari sini kita memahami pula bahwa kita hanya mengenal Allah dengan benar kalau menggunakan metodologi sebagaimana ketika Allah SWT menerangkan dirinya sendiri kepada kita. Jangan sampai kita terjatuh pada sikap sebagaimana yang diperlihatkan oleh sebagian orang, dimana ketika ingin mengenal Allah SWT, mereka menggunakan caranya sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya kesalahan dalam pemahamannya atau bahkan tidak bisa memahami Allah sama sekali. Hal seperti inilah yang dilakukan oleh para filosof.

Ketika sifat-sifat Allah sudah bisa dipahami dengan jelas oleh manusia, maka tidak diperlukan ikroh (paksaan) dalam melakukan da’wah agar seseorang mau beriman. Oleh karena itu pada ayat berikutnya (ayat 256) Allah SWT mengatakan (Tidak ada paksaan dalam Islam). Dengan pengenalan Allah SWT melalui pemahaman sifat-sifat Allah sebagaimana Allah SWT menerangkan dirinya sendiri dalam Al-Qur’an dan seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam As-Sunnah, maka seseorang dengan idzin Allah SWT akan beriman kepadaNya.

Namun walaupun demikian, realitanya ada orang yang tetap tidak mau beriman walaupun sudah memahami dengan jelas sifat-sifat Allah SWT. Dan orang seperti ini dikatakan sebagai orang yang menyimpang dari ajaran Allah SWT, karena asal muasalnya semua makhluk Allah beriman kepada-Nya. Kalau kemudian ada makhluk yang tidak beriman kepadaNya, maka ia dikatakan telah menyimpang. Diantara sebab terjadinya penyimpangan itu adalah karena dia salah dalam memberikan wala’ (salah dalam memberikan loyalitas atau salah dalam mencari teman dekat). Hal ini dijelaskan Allah SWT pada ayat selanjutnya yaitu pada ayat 257. Pemberian wala’ mempunyai pengaruh yang sangat besar pada warna diri seseorang. Oleh karena itu jika kita salah dalam menyerahkan wala’ kita, akan membawa akibat yang fatal dalam kehidupan ini.

Mudah-mudah Allah senantiasa menunjuki jalan hidup kita, sehingga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selamat. Amien.

Incoming search terms:

  • hakekat kematian
  • haqiqotul hayyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *