Madrasah Ramadhan…

Ramadhan adalah bulan tarbiyah (pendidikan). Bulan ini bagaikan, madrasah kolosal yang mendidik hamba-hamba Allah yang mu’min untuk menjalani tarbiyah islamiyah mutakamilah (pendidikan Islam yang sempurna); meliputi tarbiyah ruhiyah (ruhani), aqliyah (intelektual), jasadiyah (pisik).

Tarbiyah Ramadhan diikuti seluruh kaum muslimin; mulai pejabat hingga rakyat, kaya atau miskin, tua ataupun muda, remaja maupun dewasa … tidak memandang suku bangsa warna kulit ataupun bahasa, semua yang mengakui beriman bersam-sama mengikuti Allah berpuasa Ramadhan.

Esensi utama dari Tarbiyah Ramadhan adalah menghubungkan manusia dengan Rabbul ‘Alamin.. Menghidupkan hati nurani dan mengisi jiwa dengan nilai-nilai keimanan yang tinggi. Melalui dua program utama : taqaarub ila Llah (mendekatkan diri kepada Allah) dengan ibadah total siang dan malam hari, serta taqarrub ila minhajillah (mendekatkan diri dengan konsepsi Allah) dengan interaksi yang intensif dengan Al Quranul Karim. Gelar kesarjanaan yang akan diperoleh mereka yang mengikuti program pendidikan ini adalah “Taqwa”.

Karunia Yang Maha Pendidik

Ramadhan adalah karunia istimewa dari Allah Rabbul ‘Alamin. Salah satu sifat Allah yang tercermin dalam nama-Nya, “Ar Rabb” adalah “Yanag Maha Mendidik”. Mendidik adalah menumbuh kembangkan dengan bimbingan dan pimpinan sedikit demi sedikit hingga mencapai kesempurnaan. Allah memberikan pimpinan, bimbingan, untuk tumbuh bagi seluruh makhluqnya yang ada di alam semesta. Setiap makhluq telah diprogram sedemikian rupa sehingga mencapai kesempurnaan dalam melaksanakan peran hidupnya. Sebatang pohon mangga telah ditentukan kejadiannya mulai dari tumbuhnya benih, biji, batang, cabang, ranting. Allah menentukan jumlah daunnya yang rimbun dan buah mangga yang dihasilkannya. Bahkan di mulut siapa mangga tersebut akan berkhidmat telah ditentukan Allah. Itulah taqdir kauni (ketentuan Allah) di alam semesta yang ukuran-ukurannya pasti.

Secara fisik manusia pun memperoleh bimbingan rabbaniyah ini. Dia tumbuh berkembang seperti halnya makhluk Allah lain. Dari setetes air mani yang berisi jutaan spermatozoa, terjadi zygote padai sel-telur ibu, tumbuhlah embrio manusia. Di dalam rahim ibu janin bayi hidup dan berkembang, kemudian menjadi bayi yang sempurna keajadiannya dan tidak sempurna…. Setelah itu bayi pun dilahirkan Allah dari perut ibunya. Bayi mungil terus tumbuh berkembang menjadi kanak-kanak, selanjutnya menjadi remaja, kemudian dewasa. Seiring perkembangan fisik, intelektualitas pun berkembang sehingga manusia yang kian dewasa dan kian pintar.

Manusia dipanjangkan usianya kelak menjadi tua, kemudian sangat tua sehingga pikun. Kemampuan akalnya pun berkurang. Tidak ada yang kekal dan bertahan hidup terus. Pada akhirnya dia harus menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Kesemuanya dalam program ilahiyah yang sangat akurat. Namun manusia bukan hanya makhluk yang bersifat jasmani dan fikiran belaka. Dia merupakan paduan jasmani ruhani. Bimbingan Allah dan tarbiyahnya untuk membangun ruhani khas dan istimewa. Itulah tarbiyah rabbaniyah (ketuhanan) yang disampaikan Allah berdasarkan wahyu yang diturunkan-Nya kepada hamba-hamba pilihan yaitu para Nabi dan Rasul Alaihimus Salaam.

Dengan Al Islam, Al-Qur’an, As-sunnah, dan warisan peradaban Islam –Allah mendidik manusia mencapai kesempurnaan hidupnya, Wahyu Allah sebagai pedoman hidup mempunyai keistimewaan sebagai pembimbing hati dan jiwa manusia mencapai derajat mulia yaitu taqwa. Al Qur’an adalah kitabut-tarbiyah wal hidayah yang tiada bandingnya dalam membentuk akhlaq dan pekerti manusia. Telah terbukti selama 15 abad lamanya. Al Qur’an merupakan pedoman hidup orang bertaqwa. Bersifat universal, berlaku sepanjang masa untuk setiap manusia di seluruh penjuru dunia.

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanny-Nya ke jalan-jalan kesela,atan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang mendenrang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (QS. Al Maidah (5) : 16)

Allah mendidik manusia secara khas dengan dua cara:

Pertama,  tarbiyah talqiniyah  dengan mengutus Jibril untuk mengajarkan dien-Nya kepada hamba-hamba pilihan (Nabi dan Rasul). Secara talqiniyah Jibril memahamkan pada hati nabi Muhammad pengertian ayat yang diturunkan kepada beliau.

Kedua, tarbiyah khofiyah yaitu proses kehidupan yang ditemui aneka ragam pengalaman batin yang mematangkan hidup para utusan Allah dan para pengikut mereka yang setia yaitu hamba-hamba Allah yang mu’min, misalnya Nabi Yusuf, beliau menjadi pemimpin negara setelah mengalami ujian penderitaan dicampakkan ke dalam sumur oleh Saudara-saudaranya, dijadikan budak, lulus dari gdaan wanita cantik dan kaya, serta masuk penjara. Inilah maksud dari pengalaman adalah guru yang terbaik.

Nabi Muhammad ditempa oleh Allah dengan tarbiyah khofiyah dalam berbagai situasi dan kondisi yang mematangkan jiwa beliau sehingga pantas menerima hidayah untuk disampaikan peda segenap manusia. Bentuk tarbiyah kepada nabi ini menjadi lebih istimewa tatkala Al Qur’an telah diturunkan dan ditalqinkan pada beliau oleh malaikat Jibril.\akikat Madrasah Ramadhaniyah

Puasa Ramadhan adalah tarbiyah khofiyah dan talqiniyah sekaligus yang sangat istimewa dalam membangun kesempurnaan jiwa manusia. Ramadhan bagaikan madrasah dimana Allah sendiri bertindak sebagai guru maha pendidik (murabbi) yang mengarahkan setiap murid menuju kesempurnaan ruhaniyah. Madrasah ini berlangsung selama sebulan penuh, maksimal 720 jam atau 2.592.000 detik. Setiap detiknya sangat berharga sehingga dapat berlipat ganda antara 10 sampai 700 kali lipat. Bahkan di setiap Ramadhan ada lailatul qadar yang lebih baik nilainya dari 1000 bulan atau 720.000 jam ini artinya setiap satu jam pada malam itu lebih baik dari 60.000 jam, atau setiap 1 detiknya lebih baik dari 60.000 detik dalam timbangan Allah.

Tarbiyah khofiyah rabbaniyah diberikan dengan latihan intensif menahan lapar dan haus dan hal-hal yang membatalkan puasa, tidak itu saja ruhani mukmin diisi dengan menjauhi maksiat anggota tubuh dari mata, telinga, mulut, perut dan lain-lain. Yang mengurangi nilai keutamaan puasa. Kemudian mengisi diri dengan ibadah wajib dan sunnah, sholat fardhu, rawatib, qiyamul lail, memperbanyak shodaqah dan amal-amal kebajikan yang lain. Maka akhlaq yang mulia diharapkan menjadi tumbuh berkembang dan sifat buruk lenyap.

Dalam madrasah ini Allah menghendaki setiap mukmin yang mengikuti program Ramadhan ini dengan meningkatkan interaksi secara maksimal dengan Al Qur’an. Mereka harus membaca sebanyak-banyaknya, mentadaburkan isinya seolah-olah Allah berbicara langsung pada dirinya. Kemudian mengamalkan sekuat kemampuan. Jadikan amaliyah ramadhan sebagai titik mula pelaksanaan ibadah yang kelak akan menjadi aktivitas yang berkesinambungan dan terpelihara.

Al Qur’an yang ditalqinkan pada nabi dahulu kini berada dihadapan kita, tinggal memahaminya dengan tafsir al Qur’an hadits dan peri kehiudpan Rasulullah, baik dengan mengkajinya sendiri atau mengkaji pada ahlinya. Oleh karena itulah Bulan Ramadhan disebut Syahrul Qur’an. Turunnya Al Qur’an ke dalam jiwa kita hanya akan menjadi kenyataan manakala dalam kondisi berpuasa dan di malam hari kita menempa diri dengan kitabullah ini. Wallahu A’lam Bish Showab.

Incoming search terms:

  • ila ruhiyah wal jasadiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *