Meneladani Rasulullah SAW

oleh : DR. Azhami Z

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah : “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS. 9:128-129).

Kecintaan seorang mu’min kepada Rasulullah SAW adalah sebuah keniscayaan. Bahkan keimanan yang kita ikrarkan dengan mulut kita tidak akan bisa dibenarkan tanpa adanya kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dan inti keimanan kita kepada Rasulullah SAW adalah al-mahabbah (cinta). Tanpa al-mahabbah kepada Rasulullah, tidak ada keimanan kita kepadanya. Oleh karena itu mencintai Rasulullah SAW adalah hal yang sangat prinsipil, hal yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang muslim. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24).

Pada ayat ini Allah SWT mengawali ayat ini dengan kalimat qul (katakanlah). Suatu ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan kata qul, menunjukkan bahwa hal yang dibicarakan di dalamnya adalah hal yang besar bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, jika manusia tidak komitment dengan hal yang dibicarakan pada ayat itu, ia diancaman Allah dengan ancaman yang keras.

Pada ayat ini Allah SWT mengatakan bahwa kalau kita tidak mencintai Allah, Rasulullah dan jihad fi sabilillah melebihi delapan hal yang dikemukakan pada ayat ini, (maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya). Jadi jika seorang muslim yang lebih mencintai orang tuanya, atau anak-anaknya, atau saudara-saudaranya, atau isteri-isterinya, atau kaum keluarga, atau harta kekayaan yang diusahakannya, atau perniagaan yang dikhawatirkan kerugiannya, atau rumah-rumah tempat tinggal daripada kecintaannya kepada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka berarti keimanannya tidak benar. Jadi pada ayat ini Allah SWT menekankan betapa pentingnya kecintaan kita. Oleh karena itu kita tidak boleh sembarangan memberikan cinta kita, apalagi kalau sampai mengalahkan kecintaan kita kepada Allah, RasulNya dan jihad fi sabilillah.

Kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, bukankah wajar jika seorang manusia mencintai bapaknya ? Bukankah sesuatu yang lumrah jika seorang manusia mencintai anak-anaknya ? Bukankah memang sudah seharusnya kalau seseorang mencintai saudara-saudaranya ? Bukankah seorang suami memang harus mencintai isterinya ? Bukankah mencintai bisnis yang ditekuni adalah hal yang terjadi pada setiap manusia ? Memang benar bahwa kecintaan-kecintaan manusia pada hal-hal di atas adalah sesuatu yang wajar. Tidak ada seorang pun yang bisa mengingkari hal itu. Dan pada ayat ini pun Allah SWT memberikan legitimasi bahwa manusia memang boleh mencintai isterinya, mencintai anaknya, mencintai bapaknya dan hal-hal yang lain yang diungkapkan pada ayat ini. Ini artinya, kita memang boleh mencintai itu semua. Akan tetapi bukti bahwa keimanan seseorang itu benar adalah bahwa cintanya kepada delapan perkara itu harus berada di bawah cintanya kepada Allah, RasulNya dan jihad fi sabilillah. Ini artinya kalau cinta kita kepada delapan perkara tadi lebih daripada kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad fi sabilillah, berarti kita tidak bisa disebut sebagai orang yang beriman.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Hisyam r.a. disebutkan bahwa pada suatu ketika Rasulullah SAW memegang tangan Umar bin Khothob r.a.. Kemudian Umar mengatakan kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, laanta ahabbu ilayya min kulli amrin, illa binafsiy (Ya Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang paling saya cintai daripada seluruh perkara, kecuali kecintaanku pada diriku sendiri).” Mendengar perkataan Umar ini, Rasulullah SAW menjawab “Laa Ya Umar, walladzi nafsi biyadihi, laana ahabbuu ilaikaa min nafsika (tidak demikian ya Umar, seharusnya kamu harus menjadikan aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri)”. Mendengar ini Umar berkata “Al-an Ya Rasulullah (saya lebih mencintai dirimu daripada diriku sendiri)”. Kemudian Rasulullah berkata “Al-an Ya Umar (sekarang engkau benar ya Umar)”. Dari percakapan antara Umar bin Khothob r.a. dengan Rasulullah SAW ini dapat kita perhatikan bahwa seharusnya kita memang harus lebih mencintai Rasulullah SAW daripada kecintaan kita kepada diri kita sendiri. Kita hendaknya benar-benar lebih mencintai Rasulullah SAW daripada kecintaan kita kepada kepentingan-kepentingan diri kita sendiri, kepentingan-kepentingan golongan, kepentingan-kepetingan kesukuan, dan kepentingan-kepentingan yang lainnya.

Kalau kita renungi, orang tua, anak, saudara, isteri, keluarga besar, adalah ibaarotun an-dhowaabit al-ijtima-iyyah (merupakan ekspresi daripada kepentingan-kepentingan kemasyarakatan). Bapak, anak, saudara, isteri, keluarga besar, semua merupakan wujud kepentingan sosial, karena pada dasarnya manusia tidak akan bisa hidup sendirian. Manusia adalah makhluk sosial. Dan orang yang paling dekat dengan orang lain adalah orang tuanya, anaknya, saudaranya, dan isterinya. Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah dalam kehidupan yang kita laksanakan ini kita benar-benar lebih mencintai Rasulullah SAW daripada kepentingan-kepentingan sosial itu ? Kalau kita masih lebih berat pemihakan kita pada kepentingan-kepentingan sosial itu daripada pemihakan kita kepada Rasulullah SAW, berarti keimanan kita tidak/ belum bisa mendapatkan legitimasi dari Allah SWT.

Sedangkan harta benda, bisnis, dan rumah tempat tinggal kita, itu semua kalau kita renungi merupakan al-masholih al-i’tishodiyyah (wujud dari kepentingan-kepentingan ekonomi). Manusia dalam hidupnya tidak bisa terlepas daripada kepentingan-kepentingan  ekonomi. Namun permasalahannya adalah sudahkan kita menempatkan cinta kita kepada Rasulullah SAW diatas kepentingan-kepentingan ekonomi ? Kalau kita masih lebih mencintai urusan ekonomi kita daripada kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, berarti keimanan kita perlu ditinjau kembali. Dengan kata lain, keimanan kita harus direformasi. Dan sebenarnya reformasi dalam Islam itu bukan hal yang baru. Diantara inti risalah yang diemban oleh Rasulullah SAW adalah tentang reformasi, yaitu reformasi dari jahiliyah menuju Islam, reformasi dari ma’shiyat kepada taat kepada Allah, reformasi dari syirik menuju tauhid. Dengan Islam, kita juga melakukan reformasi dari segala bentuk kedholiman kepada aturan Islam, seperti kedholiman dalam bidang ekonomi, kedholiman dalam dunia pendidikan, kedholiman dalam masalah sosial kemasyarakatan, kedholiman dalam berpolitik, dan lain sebagainya menuju nuuril Islam (cahaya Islam). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. 14:1)

Jadi tujuan Allah SWT menurunkan Al-Qur’an adalah untuk mengeluarkan manusia dari gelapnya segala bentuk kedholiman menuju pada terang benderangnya Islam. Kalau kita perhatikan, ketika Allah mengatakan bentuk-bentuk kedholiman, Allah mengatakan dhulumaat (kedholiman-kedholiman – bentuk jama’). Ini menunjukkan bahwa bentuk kedholiman itu beraneka ragam. Semua kedholiman-kedholiman itu harus kita tinggalkan menuju nuuril Islam. Dan subhanallah, ketika Allah mengatakan cahaya Islam, Allah mengatakan nuur (bentuk tunggal). Allah SWT tidak mengatakan anwar (bentuk jama’). Ini karena cahaya Islam itu hanya satu. Inilah inti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Jadi jika kita tidak mencintai Allah, RasulNya dan jihad fi sabilillah melebihi delapan perkara yang diungkapkan pada ayat ini, (maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya). Kalau kita perhatikan, dalam kehidupan kita sekarang ini terjadi bermacam-macam krisis. Kita tengah dilanda krisis kepemimpinan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis kepercayaan dan berbagai macam krisis yang lainnya. Semua itu terjadi sebagai akibat dari kesalahan kita dalam masalah al-mahabbah (cinta). Semua krisis yang kita alami ini merupakan peringatan Allah SWT kepada kita. Ini memberikan pelajaran agar kita meninjau kembali kebenaran keimanan kita kepada Allah SWT dan RasulNya.Inilah yang dikatakan bahwa al-mahabbatu min shomiimil ‘aqiidah (cinta itu termasuk esensi daripada ‘aqidah Islamiyah). Oleh karena itu kita tidak bisa sembarangan memberikan cinta kita. Dalam ilmu ‘aqidah kita mengenal pelajaran yang dinamakan al-wala’ wal baro’ (siapa yang berhak kita cintai dan siapa yang harus kita benci). Di sini masalah cinta dan benci secara jelas diatur dalam Islam.

Sebenarnya ummat Islam adalah ummat yang terbaik, sesuai firman Allah :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. 3:110).

Konsekuensi sebagai penyandang gelar ummat terbaik adalah bahwa ummat Islam menanggung beban dan kewajiban yang berat. Jangan sampai kita mau mendapatkan supremasi menjadi ummat terbaik, akan tetapi tidak mau melaksanakan konsekuensinya. Dari awal-awal turunnya Al-Qur’anul Karim, Allah SWT sudah menegaskan :

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (QS. 73:5).

Ucapan yang berat yang dimaksud pada ayat ini adalah Al-Qur’anul Karim. Artinya, menusia akan berbobot dalam kehidupannya apabila ia komitmen dan selalu berafiliasi dengan aturan-aturan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ketika kita jauh dari Al-Qur’an, maka kita akan terjatuh ke dalam lembah kehinaan. Dan untuk bisa komitmen dengan segala aturan yang terdapat dalam Al-Qur’an, maka kita harus meneladani kehidupan Rasulullah SAW, karena beliaulah yang paling memahami aturan-aturan tersebut dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Inilah pentingnya selalu mengingat Rasulullah SAW, dan meneladani perjuangan beliau.

Dan mengingat Rasulullah SAW tidak hanya ketika datang maulid saja, akan tetapi kita harus mengingat dan meneladani Rasulullah SAW sepanjang hidup kita. Ketika kita sedang sholat, diantara bacaan tasyahud yang kita ucapkan adalah asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Jadi setiap saat kita berhubungan dengan Rasulullah SAW. Dengan senantiasa mengingat beliau, kita memperbarui loyalitas kita kepada Rasulullah SAW.

Yang menjadi permasalahan kemudian adalah apa indikasi daripada kecintaan kepada Rasulullah SAW ? Ini perlu kita pahami benar agar jangan sampai kita terjatuh dalam sebuah fenomena, dimana ada orang yang selalu menggembar-gemborkan bahwa ia mencintai Rasulullah SAW, akan tetapi perbuatannya tidak menunjukkan demikian. Indikasi bahwa kita mencintai Rasulullah SAW adalah seperti firman Allah SWT :

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Jadi bukti bahwa kita mencintai Allah dan Rasulullah SAW adalah dengan mengikuti ajarannya. Jangan sampai kita termasuk orang yang hanya ikut-ikutan saja dalam masalah cinta ini. Cinta kita haruslah ‘ala bashiroh (sesuai dengan dalil). Mengomentari ayat ini, Imam Hasan Al-Basri rohimahullah, seorang sayyidut tabi’in (tokoh para tabi’in, pemimpinnya para tabi’in) mengatakan “Kaana qaumun yaj-umuun, annahu yuhibbunar Rasul, fabtaahum fii hadzil ayah (ada sebuah kaum yang mengaku bahwa mereka mencintai Allah dan RasulNya, maka kemudian Allah menguji pengakuan mereka itu dengan ayat ini). Artinya cinta kita kepada Rasulullah SAW itu harus kita buktikan dengan perbuatan, yaitu dengan mengikuti jalan hidup Rasulullah SAW. Ketika kita mengetahui bahwa Rasulullah suka musyawarah, maka bukti bahwa kita mencintai Rasulullah adalah kita harus juga menyukai musyawarah. Kalau Rasulullah SAW selalu sholat berjama’ah di masjid dan di awal waktunya. Perlu kita ketahui bahwa Rasulullah sepanjang hidupnya selalu sholat berjama’ah, kecuali ketika beliau akan meninggal. Ketika maut hendak menjemputnya, Rasulullah tidak mampu lagi shalat berjama’ah. Dan baru di saat itulah Rasulullah tidak sholat berjama’ah dan kedudukan beliau sebagai imam dalam sholat digantikan oleh Abu Bakar r.a. Pertanyaannya kemudian, ketika kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, sudahkah kita menegakkan sholat jama’ah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ? Jangan sampai kita selalu mengatakan mencintai Rasulullah, akan tetapi perbuatan kita bertentangan dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jika demikian, berarti kita tidak komitmen dengan keimanan yang kita ucapkan. Inilah pentingnya kita senantiasa mengingat-ingat kehidupan Rasulullah SAW.

Kenapa kita harus mencintai Rasulullah SAW ? Karena Rasulullah SAW adalah orang yang terbaik yang diciptakan Allah SWT di jagad raya ini. Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaqnya. Dan yang mengatakan seperti ini bukanlah hanya manusia, akan tetapi Allah SWT sendiri, Yang Maha Menciptakan jagad raya ini dan yang menciptakan manusia. Allah berfirman :

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. 68:4)

Ketika Allah mengatakan (Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung), merupakan sebuah pujian dari Al-Kholiq (Allah SWT Sang Maha Pencipta) kepada Rasulullah SAW. Biasanya, kalau ada seseorang yang dipuji, apalagi kalau pujian itu dilakukan di hadapan orang banyak, seringkali menyebabkan orang yang dipuji itu menjadi merasa besar. Dan orang yang sering menerima pujian akan sulit untuk menerima kritik dan nasehat dari orang lain. Namun ternyata hal ini tidak terjadi pada Rasulullah SAW. Walaupun Rasulullah dipuji oleh Allah SWT, namun beliau tidak kemudian merasa besar. Beliau tetaplah seorang Rasul yang senantiasa tetap tegak dalam bertingkah laku sesuai dengan aturan Islam. Oleh karenanya, sangatlah layak pujian Allah itu diberikan kepada Rasulullah SAW, karena memang demikian tinggi keluhuran akhlaq beliau SAW.

Ketika Rasulullah SAW dipuji tidak meresa besar, sebaliknya ketika Rasulullah SAW ditegur oleh Allah, beliau tidak kemudian ‘ngambek’ dari melaksanakan tugas da’wah. Allah SWT pernah menegur Rasulullah SAW dalam firmanNya :

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? (QS. 80:1-4)

Sababun nuzul ayat ini adalah bahwa ketika Rasulullah SAW sedang menda’wahi shinadiid quraisy (pemimpin-pemimpin kafir Quraisy) seperti Abu Jahal dan lain-lain (kalau sekarang adalah ‘pengajian elit), tiba-tiba Abullah bin Ummi Maktum r.a. yang buta datang dan kemudian mengatakan “Ya Rasulullah, ‘alimni mim maa ‘alamallah (Ya Rasulullah, ajarilah aku dari apa yang engkau diajari oleh Allah)”. Permintaan itu disampaikan kepada Rasulullah SAW berulang kali, sementara Rasulullah SAW sedang serius menda’wahi pemimpin-pemimpin kaum Quraisy. Mendengar permintaan Abdullah bin Ummi Maktum ini, dalam diri Rasulullah ada sesuatu yang terasa kurang. Akhirnya Rasulullah bermuka masam (‘abasa) dan berpaling (watawalla) kepada Abdullah bin Ummi Maktum ini.

Pada saat itu sebenarnya Rasulullah SAW sebenarnya sibuk. Rasulullah bukan sibuk untuk kepentingan pribadinya, akan tetapi Rasulullah SAW sibuk berda’wah di jalan Allah. Namun demikian, ketika Rasulullah SAW tidak memperhatikan dan tidak menanggapi pertanyaan Abdullah bin Ummi Maktum, seorang yang matanya buta, Allah SWT menegur beliau. Jika kita lihat dari sudut pandang kedudukan sosial, seolah-olah Abdullah bukanlah orang yang penting, karena ia buta dan juga fakir. Sementara yang dihadapi oleh Rasulullah SAW adalah pemimpin-pemimpin Quraisy. Menurut akal kita, adalah hal yang wajar jika Rasulullah SAW lebih memperhatikan pemimpin-pemimpin Quraisy itu daripada memperhatikan Abdullah bin Ummi Maktum. Namun hal itu ternyata tidak dibenarkan oleh Allah SWT. Kenapa demikian ? Karena Abdullah bin Ummi Maktum, walaupun secara strata sosial dan ekonomi lemah, namun dia jujur. Kedatangannya benar-benar untuk bertanya dan kemudian menerima Islam selanjutnya bertekad untuk mengamalkannya. Sementara pemimpin-pemimpin kufar Quraisy yang datang ke majlis itu hanya untuk basa-basi saja. Buktinya, pada waktu-waktu sebelumnya mereka mengusir para shohabat Rasulullah yang miskin. Dalam kondisi semacam itulah Rasulullah ditegur oleh Allah dengan firman Nya yang terdapat pada ayat ini ketika lebih memperhatikan pemimpin-pemimpin kafir Quraisy itu daripada Abdullah bin Ummi Maktum.

Seandainya kita menjadi seorang pemimpin, kemudian kita ditegur langsung oleh atasan kita di depan rakyat dan lawan politik kita, hanya karena kurang memperhatikan seorang warga yang miskin, bagaimana sikap kita ? Apakah kita akan berterima kasih kepada orang yang miskin itu, ataukah kita akan memarahinya ? Kita mungkin akan memarahi orang yang miskin ini. Namun subhanallah, tidak demikian dengan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika diingatkan dan ditegur dengan bahasa yang sedemikian keras oleh Allah SWT karena kurang memperhatikan Abdullah ini. Beliau sama sekali tidak marah kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Bahkan ketika Abdullah bin Ummi Maktum ini datang kepada Rasulullah SAW setelah peristiwa tersebut, Rasulullah mengatakan “Ahlan wa sahlan, biman attabani robbi lii ajriy (selamat datang wahai Abdullah bin Ummi Maktum, inilah orang baik karena sebab Anda, saya diingatkan oleh Allah SWT). Dan sikap Rasulullah SAW benar-benar tulus, terbukti Abdullah bin Ummi Maktum pernah ditunjuk menjadi amir (pemimpin) kota Madinah ketika Rasulullah pergi keluar.

Inilah sosok pemimpin yang ideal. Rasulullah SAW baik ketika dipuji atau ketika ditegur oleh Allah SWT, beliau tetap komitmen dengan jalan Islam. Sungguh suatu teladan yang sejati bagi kita. Oleh karena itu jangan kita ‘ngambek’ dari jalan da’wah ini hanya karena mendapat teguran sedikit saja. Ada orang yang ketika ditegur karena suatu kesalahan yang diperbuatnya, langsung tidak mau lagi datang ke masjid. Padahal ketika kita tidak mau berteman dengan orang yang sholeh, maka kita akan ditemani oleh syaithon. Na’udzubillah.

Sungguh sangat mulia akhlaq Rasulullah SAW. Oleh karena itu adalah hal wajar kalau kita harus mencintai beliau. Bahkan mencintai Rasulullah SAW adalah sebuah keniscayaan sebagai konsekuensi daripada keimanan kita. Dan Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat peduli dengan nasib ummatnya. Yang menjadi pikiran Rasulullah SAW adalah bagaimana agar ummat benar-benar senantiasa berada dalam petunjuk Allah SWT. Demikian besar perhatian Rasulullah SAW kepada ummatnya, sehingga beliau sangat sedih ketika mengetahui ummatnya yang tidak bertindak sesuai dengan aturan Allah. Hal ini bisa kita dapatkan pada firman Allah :

Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena merekar tidak beriman. (QS. 26:3)

Pada ayat ini jelas sekali bagi kita kesedihan Rasulullah SAW ketika ada diantara ummatnya yang tidak mau beriman. Sedemikian sedihnya Rasulullah SAW, sampai-samapi beliau hampir membinasakan dirinya sendiri, karena ummatnya tidak mau beriman. Dalam rangka meneladani Rasulullah SAW, selayaknyalah kita bersedih ketika melihat saudara kita sesama muslim yang tidak mau pergi mengaji, atau tidak mau sholat berjama’ah di Masjid, atau tidak mau menjalin ukhuwwah dengan orang yang se-aqidah. Kalau kita menjadi seorang pemimpin, selayaknyalah kita bersedih ketika melihat bawahan kita tidak mau beribadah kepada Allah, bahkan suka memakan sesuatu yang haram. Dan kesedihan kita itu harus kita tindaklanjuti dengan cara berda’wah untuk mengajak saudara-saudara kita untuk kembali ke jalan Allah SWT. Dan hanya dengan berda’wah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkur (mengajak kapada yang baik dan mencegah dari yang munkar) inilah masyarakat kita akan selamat dari berbagai macam keburukan yang mungkin terjadi.

Jika kita meneladini generasi-generasi terbaik yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para shohabat maupun generasi-generasi setelahnya, amar ma’ruf nahi munkar merupakan sebuah kenisnayaan. Pada masa salafus sholeh (Ulama’-Ulama’ sholeh generasi terdahulu) dan juga murid-muridnya, ketika mereka melakukan sholat jama’ah dan jika pada saat itu itu adalah seorang saudara mereka se’aqidah yang tidak datang, mereka bukan bersikap masa bodoh, akan tetapi mereka beramai-ramai datang ke rumah orang yang tidak datang sholat berjama’ah itu untuk berta’ziah dan menanyakan mengapa tidak datang ke Masjid untuk sholat jama’ah. Jika kita meneladani sikap seperti ini, sungguh terasa indah kehidupan ini.

Jangan sampai kita bersikap acuh tak acuh ketika melihat saudara kita berada dalam kema’shiyatan yang diperbuatnya. Jangan sampai kita rela jika ada saudara kita yang diadzab oleh Allah SWT karena kema’shiyatan yang dilakukannya. Jangan sampai kita tega melihat saudara kita yang hanya pandai mengatakan cinta kepada Rasulullah dengan mulutnya, akan tetapi perbuatannya bertentangan dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu ketika kita meyelenggarakan acara-acara yang yang tujuannya untuk meningkatkan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, jangan sampai acara-acara itu hanya bersifat seremonial belaka tanpa memberikan natijah (hasil) berupa keinginan kuat (‘azam) untuk meneladani beliau. Dengan pengajian-pengajian yang kita selenggarakan, marilah kita bercermin untuk mengetahui sejauh mana perilaku kita jika dibandingkan dengan teladan kita. Kita memang tidak mungkin sama persis dengan Rasulullah SAW, namun hal itu bukan alasan untuk tidak meneladi beliau sesuai dengan kemampuan optimal kita.

Para shohabat adalah orang-orang yang benar-benar mencintai dan meneladni Rasulullah SAW. Bahkan mereka bukan hanya mengikuti Rasulullah SAW dalam hal-hal yang wajib atau sunnah saja, akan tetapi sampai kepada hal-hal yang bersifat mubah pun diikuti. Misalnya apa yang dikerjakan oleh Abdullah ibnu Umar, yang sampai mengikuti rute yang dilewati Rasulullah SAW ketika hendak pergi ke masjid. Ini dilakukan karena demikian dalamnya kecintaan para shohabat kepada Rasulullah SAW. Subhanallah. Jangankan untuk hal-hal yang yang wajib atau sunnah, yang mubah pun diikuti. Ini adalah contoh bagi kita agar benar-benar mengikuti Rasulullah SAW, karena kita mengharapkan syafa’at Rasulullah SAW kelak. Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan syafa’at kalau kita tidak mengikuti jalan hidupnya.

Dalam masalah cinta, Rasulullah SAW lebih berhak untuk kita cintai daripada diri kita sendiri sekalipun. Allah berfirman :

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mu’min dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mu’min dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). (QS. 33:6)

Kenapa lebih berhak kita cintah daripada dri kita sendiri ? Karena Rasulullah SAW tidak pernah mengajak ummatnya kecuali pada jalan yang benar, kecuali pada jalan yang menuju hidayah Allah, kecuali pada jalan yang mengantar ummatnya menuju surga. Sedangkan diri kita seringkali melakukan berbagai perbuatan ma’shiyat, dan sering pula berbuat tidak jujur.

Untuk bisa meneladani Rasulullah SAW, tidak cukup hanya dengan ilmu (al-’ilmu wahdahu laa yakfiy), karena ada orang yang memiliki banyak ilmu tetapi tertipu oleh ilmunya sendiri. Diperlukan upaya untuk melakukan tazkiyatun nafs (proses pembersihan diri sendiri). Banyak contoh yang bisa kita angkat yang menunjukkan bahwa ilmu saja tidak cukup. Misalnya ada orang yang berilmu sehingga mengetahui tentang fiqhuz zakat. Dengan ilmunya, ia mengetahui batas wajibnya seseorang untuk membayar zakat. Namun karena dalam dirinya tidak ada upaya untuk membersihkan diri, maka ilmunya itu disesuaikan dengan hawa nafsunya agar ia tidak terkena kewajiban untuk mengeluarkan zakat. Padahal zakat sangat penting artinya bagi kehidupan kaum muslimin dan kebersihan hati orang yang menunaikannya (zakat berasal dari kata zaki yang berarti suci, sehingga dengan mengeluarkan zakat, proses pembersihan hati bisa dimulai). Karena demikian pentingnya arti zakat, sampai-sampai Abu Bakar Ash-Shidiq, kholifah pertama yang menggantikan Rasulullah SAW, pernah memerangi orang yang menolak membayar zakat, yang terkenal dengan sebutan qital maaniz zakah (peperangan pada orang yang tidak mau membayar zakat).

Penguasaan fiqh harus didahului dengan akhlaq yang Islami, karena kemuliaan akhlaq itulah yang akan memotivasi kita untuk berbuat baik. Demikian pentingnya masalah akhlaq, sampai-sampai Rasulullah SAW menggambarkan bahwa seolah-olah inti daripada ajaran Islam adalah akhlaq. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan “Innamaa bu’itstu li utammima makaarimal akhlaq (Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq).” Pada pada hadits ini Rasulullah SAW menggambarkan misi yang diembannya dengan ta’bir yang berbunyi innama, yang oleh pakar bahasa Arab dikatakan sebagai ‘adatul hasr (alat untuk mengkhususkan), sehingga artinya ‘hanyalah’. Jadi dari pengungkapan Rasulullah SAW seolah-olah inti daripada ajaran syariat Islam adalah tentang akhlaq. Di atas akhlaq inilah syariat Islam akan tumbuh dan berkembang. Jadi kalau ada orang yang hanya belajar fiqh saja, walaupun fiqh itu penting karena tanpa fiqh kita tidak akan tahu hukum Islam. Akan tetapi penguasaan fiqh yang tidak didasari dengan akhlaq yang Islami, bisa saja orang akan melanggar ajaran Allah.

Kalau kita perhatikan, orang-orang yang suka memakan barang yang diharamkan oleh Allah SWT, melakukan korupsi dan sebagainya, apakah mereka semaunya tidak tahu bahwa yang dilakukannya itu diharamkan oleh Allah ? Mereka itu tahu kalau yang dilakukannya salah. Namun dilanggar juga pengetahuannya itu. Dan orang yang seperti ini seringkali lebih hina daripada binatang sekalipun. Binatang tahu mana yang halal dan mana yang haram. Manusia juga tahu mana yang halal dan mana yang haram, akan tetapi manusia seringkali melanggarnya. Misalnya, seekor kucing, ketika diberi makan oleh tuannya, makannya tenang, karena ia tahu kalau makanan yang dimakannya itu halal. Namun ketika kucing itu makan makanan yang didapatkan dengan cara mencuri makan milik tuannya, maka makannya tidak akan bisa tenang. Dan ketika hal itu diketahui oleh tuannya, kucing itu langsung lari karena tahu bahwa makanan yang dimakannya itu haram karena didapatkan dengan cara mencuri. Kalau hal ini kita bandingkan dengan manusia, seringkali kita jumpai manusia yang melakukan korupsi dengan tenang-tenang saja. Subhanallah. Jadi akhlaq-lah yang membedakan kita dengan binatang. Makanya ketika kita tidak berakhlaq, kita bisa meluncur dari atas ke bawah yang tidak hanya sama dengan binatang, akan tetapi bisa lebih rendah daripada binatang. Allah SWT berfirman :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179).

Oleh karena itu, hendaklah seluruh aktivitas dan kegiatan kita, hendaklah kita landasi dengan akhlaq dengan niyat yang ikhlas karena Allah SWT. Karena Rasulullah adalah orang yang paling ikhlas dan tidak sekalipun mengajak ummat kecuali kepada jalan menuju surga, maka sudah sewajarnyalah kalau Rasulullah SAW lebih berhak untuk kita cintai daripada diri kita sendiri.

Indikasi bahwa seseorang itu cinta kepada Rasulullah SAW adalah hendaklah dalam seluruh aktivitas kehidupan setiap individu yang mengaku bahwa dirinya seorang mu’min, maka ia harus tunduk kepada ajaran Rasulullah SAW. Artinya, tidak ada istilah hukum atau sistem atau peraturan yang khusus kita buat yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah SAW. Sebagai seorang suami, hendaklah cara memberlakukan menajemen dalam rumah tangga, adalah manajemen yang ditentukan oleh Rasulullah SAW. Sebagai seorang isteri, hendaklah bersikap sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW melalui istri-istrinya. Sebagai seorang guru juga demikian. Sebagai seorang pejabat juga demikian. Jadi tidak ada istilah sesuatu yang khusus bagi diri kita sendiri sementara tidak mengikuti Rasulullah SAW. Dan kalau ada orang yang mengaku seorang muslim akan tetapi membuat sistem sendiri, maka Allah SWT mengatakan bahwa orang yang seperti ini adalah orang yang tidak beriman. Allah berfirman :

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. 4:65).

Menjadikan Rasulullah SAW sebagai hakim artinya tunduk kepada keputusan Rasulullah SAW. Dan bukan hanya sekedar tunduk, akan tetapi dalam menerima keputusan Rasulullah SAW, kita harus menerimanya dengan sepenuh hati kita. Kalau tidak demikian, berarti keimana kita diragukan kebenarannya. Dan yang mengatakan tidak beriman adalah Allah SWT, bukan kita dan bukan pula manusia yang lainnya. Dalam realita kehidupan kita, sudahkah semuanya kita langsungkan dengan mencontoh Rasulullah SAW ? Misalnya dalam melangsungkan sebuah pernikahan, mualai dari cara memilih calon isteri, sampai ketika melangsungkan pernikahan hingga dalam melangsungkan rumah tangga kita, sudahkah itu semua sesuai dengan ajaran Rasul ? Dalam kehidupan di masyarakat kita, masih banyak kita jumpai kepercayaan-kepercayaan yang salah. Misalnya ada orang yang batal melaksanakan akad nikah di suatu bulan, karena percaya bahwa pada saat itu nyi roro kidul sedang ‘mantu’. Ada juga orang yang menghindari hari-hari tertentu untuk melaksanakan pernikahan anaknya, karena pada hari seperti itulah keluarganya dahulu meninggal. Namun ironisnya, yang mempunyai kepercayaan seperti itu seringkali sudah bergelar ‘Pak Haji’. Inilah potret sebagian masyarakat kita.

Jadi indikasi bahwa kita cinta kepada Rasulullah SAW adalah bahwa kita mengikuti kehidupan Rasulullah SAW secara totalitas. Tidak ada istilah satu sistem yang khusus untuk kita yang tidak taat kepada Rasulullah SAW. Dan ciri-ciri orang munafik adalah yang selalu cenderung kepada thoghut (berasala dari kata thogho yang artinya tirani, yang melampaui batas). Hawa nafsu kita bisa jadi thoghut. Undang-undang atau sebuah peraturan juga bisa jadi thoghut. Adat istiadat yang tidak Islami bisa juga jadi thoghut. Dan apa saja bisa menjadi thoghut kalau tidak dalam rangka taat kepada Allah dan Rasulullah SAW. Dan orang munafik adalah manusia yang dalam kehidupannya menuruti thoghut, bukan mentaati Allah dan RasulNya. Allah katakan :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. 4:60)

Jadi orang yang selalu mengikuti thoghut, mereka adalah orang yang sesat sejauh-jauhnya. Jadi sudah sulit untuk kembali ke jalan Islam. Kalau dinasehati ia tersinggung. Ada orang yang berbuat baik dikatakan ‘kemajon’, sehingga generasi muda tidak bisa maju karenanya. Dengan orang yang lebih tua, tidak hormat. Akhirnya hubungan antar sesama ummat Islam tidak harmonis. Yang tua, menganggap dirinya paling pengalaman. Yang muda, menganggap dirinya mempunyai ilmu baru yang belum diketahui oleh orang-orang tua. Kalau yang seperti ini tidak segera di-ishlah (diperbaiki), tentu akan merusak masa depan ummat Islam itu sendiri. Baik yang tua maupun yang muda, merupakan aset ummat ini, yang semuanya mempunyai potensi untuk memperjuangkan Islam.

Kalau kita perhatikan sejarah yang pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya, ummat Islam pernah mengalami pertentangan antara yang muda dengan yang tua semacam ini. Setelah perang Badar selesai, pada waktu itu, ada golongan tua dan ada golongan muda. Yang tua mengatakan kepada yang muda “Saya kemarin ketika perang ada di bawah bendera. Dengan adanya sayalah kamu bisa lari ketempat saya” Kemudian yang muda tidak mau kalah dengan mengatakan “Sayalah yang berperang dan memenggal leher musuh Islam, bukan kamu”. Lanjutan dari perselisihan ini, antara yang tua dengan yang muda saling berebut kelebihan pembagian harta rampasan perang. Krisis semacam ini jangan sampai terulang lagi, makanya Allah SWT mengabadikan kisah seperti dalam Al-Qur’an. Dan krisis semacam ini akan terhindar kalau dalam setiap kita ada mahabbah (perasaan cinta). Memang benar bahwa kita harus memperjuangkan hak-hak kita. Akan tetapi yang terpenting adalah bahwa  sebelum itu kita harus mempunyai mahabbah (cinta) kita kepada saudara kita. Dan sebagai konsekuensi logis atas cinta kita kepada Rasulullah SAW, maka kita juga harus cinta kepada ummatnya, khususnya orang yangmemperjuangkan ummat Rasulullah SAW. Misalnya kalau sebuah rumah tangga, dimana ada suami, isteri dan anak-anak, jika yang ada di dalam rumah itu adalah perdebatan tentang masalah hak dan kewajiban saja, apa yang terjadi ? Yang terjadi bukanlah ketenangan, akan tetapi mungkin malah keributan. Oleh karena itu, kalau masalah hak dan kewajiban tidak dilandasi dengan mahabbah, maka sulit terjadi ketenangan dalam kehidupan rumah tangga. Tidak ada salahnya jika seorang suami membantu memasak isterinya ketika ia sedang libur, misalnya. Dan hal itu dilakukan karena rasa cintanya kepada isterinya. Demikian juga seorang isteri, walau menyeterika bukan hanya kewajiban seorang isteri akan tetapi tidak ada salahnya kalau sebagai wujud cintanya kepada suaminya ia kemudian menyeterika baju suaminya.

Jadi masalah hak dan kewajiban adalah masalah fiqh. Agar pendekatan fiqh itu bisa berjalan  baik, maka pendekatan akhlaq harus senantiasa dilakukan. Suasana mahabbah harus senantiasa dihidupkan, karena setiap muslim dengan muslim yang lainnya itu harus ada mahabbah.

Mudah-mudahan kita bisa mencintai Rasulullah SAW dengan benar, yang kita ekspresikan dengan mengikuti Rasulullah SAW. Mudah-mudah kita diberikan hidayah oleh Allah SWT, disatukan hati kita, pemikiran kita dan langkah kita untuk bersama-sama meniti Mardlotillahi. Dan semoga kita dipertemukan dengan Rasulullah SAW di surga Allah kelak. Amin.

Incoming search terms:

  • perilaku yang meneladni al akhir
  • Tafsir wa anfiquu min maa rozaqnaakum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *